Aku nggak pernah kepikiran sejauh
ini sebelumnya. Aku nggak pernah nyangka bakalan terus seperti ini kejadiannya
. beberapa saat mungkin aku merasa senang dan nyaman tapi entah kenapa setiap
kali seperti ini kejadiannya membuatku berfikir lebih banyak dari sebelumnya. Kau
tahu? Banyak orang pasti memiliki topeng pribadinya, seseorang pernah
mengatakan kepadaku “ ada 3 jenis kamu, kamu ketika kamu sendiri, kamu ketika
kamu bersama temanmu, dan kamu ketika kamu bersama dengan orang tuamu.” Tapi aku
fikir semua jenis itu kini berkembang,dan beranak pinak. Yang sadari kali ini
ada banyak sekali aku. Dan lebih banyak aku sebagai seorang penipu dan pemain. Kisahku
tak pernah semulus kelihatannya. Aku tak pernah benar-benar merasakan semua
dalam bentuk aslinya. Aku selalu saja menyembunyikan sesuatu dari orang lain,
bahkan aku sering mengada-ada untuk menyelamatkan diri. Kau tahu? Justru ini
yang membuatku semakin sering terluka. Benar katanya, kalau aku ini terlalu
sering membiasakan sebuah kesalahan, membuat mereka merasukiku dengan sangat
mudah, membuatku susah lepas dan kerap kali membuatku terpuruk karenanya. Aku seseorang
yang sangat keras kepala. Aku selalu berusaha mengikuti kata hati, padahal tak
selamanya kata hati ku mengatakan yang seharusnya terjadi, aku sering kali
menyimpang. Ketika aku sudah memutuskan tak jarang keingingan dalam hatiku
mendominasi, sehingga pada akhirnya aku akan merasa bimbang sendiri. Sering aku
bertanya pada hatiku sendiri, kenapa harus aku? Kenapa aku harus selemah ini? Kenapa
aku harus seceroboh ini? Kenapa aku harus semuah ini? Aku sekali lagi memulai
kesalahan yang sama, dengan pola yang terlihat sedikit berbeda tetapi aku piker
akan berakhir mengenaskan pula. Bahkan saat ini aku ragu, apa pernah sekali
saja aku benar benar menjadi diriku seutuhnya? Apakah aku mangsa yang sangat
empuk kelihatannya? Karna bahkan kalian tak ragu untuk memancingku masuk ke
alur permainan bodoh ini? Selalu saja seperti ini. Aku takut untuk lari, aku
takut untuk menghindar karna sejujurnya aku takut kehilangan sepenggal
kebahagiaan yang aku dapatkan meskipun itu juga semu. Tak sekali aku tersentil
oleh omongan orang lain yang membuatku berfikir panjang mengenai diriku
sendiri. Aku harus menjauh!!!! Tapi kenapa gesture tubuhku mengatakan
sebaliknya, aku tak mau kehilangan, aku tak mau kelewatan. Aku salah, aku bodoh
aku murah aku gampangan aku bangsat!. Selalu saja aku jadi pihak yang berfikir,
ingin rasanya aku mengetahui alur cerita selanjutnya seperti layaknya sutradara
agar aku juga dapat mengetahui apa yang mereka rasa sebenarnya? Apa pernah
mereka mengalami hal yang sama sepertiku? Berada diposisiku? Aku bahakan
ternyata lebih rendah dari orang orang yang aku anggap rendah. Aku bahkan lebih
payah dan hina dibandingkan mereka semua. Aku terlalu haus akan perhatian lebih
seperti ini ketika aku piker hubungan ini menguntungkan ku ternyata salah aku
tak pernah benar benar berarti bagi mereka. Apa memang ini kisahku? Aku selalu
mendambakan seseorang yang baru tanpa pola seperti ini lagi, seseorang yang
mencintaiku terlebih dahullu sehingga aku akan mengikuti arus kisanya, bukan
melewati alurku lagi. Aku piker aku harus memulai sesuatu yang beda. Aku harus
membuka diri kepada orang lain seperti sebelumnya. Kata seseorang lagi, aku
yang sekaramg tidak seperti aku yang dulu, aku yang sekarang seolah terlalu
terkekang. Oh ya kupikir itu benar. Aku kini jarang mengeksplor diriku sendiri,
aku tak pernah melebarkan sayapku lagi seperti sebelumnya, aku yang sekarang
selalu berkutat dilingkunganku saja. Kenapa? Kamu terlalu terpaku chak. Seharusnya
ini bukan kamu. Suatu saat aka nada banyak yang kukorbankan untuk memperbaiki
diri. Setidaknya kali ini aku pernah memperingatkannya, karna dari awal aku
juga sudah merasa bahwa masalahnya akan mulai tubuh dari titik ini. Mengulang kembali
siklus yang selalu terjadi dan kembali jadi mahkluk yang mudah tersakiti. Aku harus
lebih cepat mengambil tindakan dari sebelumnya. Walaupun aku sendiri sadar aku
bukanlah orang yang mudah melangkah kedepan dan meninggalkan aapa yang tlah
berlalu, aku juga seseorang yang sangat labil sehingga beberapa kali tak
melakukan apa yang sudah menjadi komitmenku sendiri. Aku sering kali terguncang
dikarenakan subjekku yang selalu ada disekitarku. Itu salah satu factor tersulit
saat ini. Mencoba menahan diri ketika subjek ada didepan mata membuatku sulit
berfikir jernih. Salah satu cara yang jitu yang selalu kulakukan hanyalah
menghindar, ya satu solusi yang selalu dapat membantu jika itu dari pihakku. Nah.
Sampai kalimat sebelumnya bahkan aku merasa aku membuat satu lembar lagi topeng
untukku, batasan dari diriku yang sebenarnya. Untuk memulihkan yang terjadi
saat ini bahkan sebelumnya. Sedikit lega rasanya, tapi setidaknya ini salah
satu cara ku untuk memberhentikan kisah dengan pola yang melelahkan ini
-______-.